January 8th, 2012

Kisah Nabi Yusuf AS yang Sabar Menghadapi Godaan

Sudah sejak lama Yusuf mengetahui, ia bersama Benyamin dibenci oleh sepuluh saudaranya dari ibu yang berbeda. Hal itu Yusuf rasakan dari perlakuan mereka. Juga secara tidak sengaja ia pernah mendengar pembicaraan mereka. “Sungguh mengherankan, Bapak lebih menyayangi Yusuf dan Benyamin daripada kita, padahal kitalah yang berjasa kepada Bapak, bukankah kita juga yang memelihara dan menjaga Yusuf semasa dia masih kecil?” kata saudara Yusuf “Mungkinkah karena Bapak lebih mencintai ibu Yusuf di banding ibu kita? Yang jelas selama Yusuf masih berada diantara kita, kasih sayang Bapak pasti hanya tercurah kepadanya.”

Walaupun begitu Yusuf tetap menghormati mereka sebagai kakak. Tidak sedikitpun terbentik dalam hati untuk membalas dendam. Ia malah berusaha untuk akrab dengan mereka dan berharap kebencian mereka pada Yusuf hilang. Sebab keluhuran pekertinya, Yusuf tidak menghendaki permusuhan. Oleh karena itu, ia tetap berusaha sabar meskipun kebencian mereka semakin besar.

Yusuf juga tidak pernah curiga bahwa mereka berniat mencelakakannya. Itulah sebabnya ia sangat gembira ketika kakak-kakaknya mengajaknya berburu. Ia beranggapan kesepuluh saudaranya tidak lagi membencinya. Maka tanpa perasaan khawatir ia turut serta bersama mereka. Tiba di telaga Jub, barulah Yusuf terkejut. Para saudaranya tiba-tiba melepas paksa bajunya kemudian Yusuf dilemparkan ke dalam sumur. Yusuf hanya bisa bersedih karena tidak berdaya melawan mereka.

Beberapa hari kemudian Yusuf di tolong oleh seorang musafir yang sedang beristirahat disana. Ketika salah seorang musafir menimba air, bergelayutlah Yusuf. Merasa timba yang diangkatnya berat sang musafir curiga. Namun setelah dilihatnya Yusuf, ia tersenyum senang. “Hai aku menemukan seorang anak yang amat tampan rupawan” teriak musafir tersebut kepada teman-temannya.

Kemudian dibawalah Yusuf meneruskan perjalanan. Tiba di Pasar Budak Negeri Mesir, Yusuf diperjualbelikan. Akhirnya Yusuf dibeli oleh seorang Raja Mesir saat itu dan ia dibawa pulang ke istana. “Jangan perlakukan anak ini sebagai budak walaupun kita telah membelinya” pinta Raja kepada permaisurinya. “Dari tingkah lakunya aku melihat dia anak orang terhormat dan mulia. Peliharalah dia sebagai anak angkat kita”

Zulaikha, sang permaisuri sangat bahagia menerimanya sebab anak yang ia dambakan sejak lama tidak kunjung datang. Maka Yusuf menjadi anggota keluarga istana. Segala keinginannya selalu terpenuhi karena ia mendapatkan perlakuan yang istimewa. Keadaan ini memang membantu Yusuf untuk melupakan perlakuan keji saudara-saudaranya. Namun, kesedihan masih dirasakannya ketika ia selalu teringat kepada Bapaknya dan Benyamin.

Yusuf tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan sangat rupawan. Segenap gerak-geriknya mempesona. Pantaslah jika Zulaikha mulai tertarik kepadanya. Kasih sayang Zulaikha pada Yusuf yang selama ini tidak lebih dari seorang ibu terhadap anaknya, berubah menjadi kasih sayang seorang wanita terhadap lelaki dambaannya.

Bagi Yusuf hal ini merupakan cobaan maksiat yang berat. Betapa tidak, Zulaikha tidak segan-segan medekati Yusuf dengan memamerkan kemolekannya. Berkat wahyu Ilahi yang diterima Yusuf sebagai bekal seorang Nabi, Yusuf berkali-kali berhasil menghindar. Walaupun sebagai manusia biasa, naluri kelelakian Yusuf tergoda untuk menuruti ajakan Zulaikha. Berdekatan dengan istri Raja tentulah menjadi kebahagian tertinggi dan merupakan pengalaman bergengsi yang didambakan oleh banyak lelaki. Lelaki manapun pasti tidak akan menolak andaikan mendapatkan kesempatan berduaan dengan Zulaikha.

“Bukankah banyak lelaki dari kalangan bangsawan sekalipun tidak berhasil melampiaskan hasratnya berdekatan dengan wanita secantik dan terhormat Zulaikha? Kenapa aku yang dapat mendapatkannya tanpa susah payah menolaknya begitu saja?” Pikir Yusuf suatu kali. Pikiran kotor semacam itu memang tidak jarang terlintas di dalam otaknya, namun ketika sadar ia langsung memohon ampun dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Penolakan Yusuf bukannya membuat Zulaikha menyerah namun keinginannya malah semakin kuat. Pada suatu hari saat istana sepi, bergeloralah nafsu Zulaikha. Dia berdandan secantik-cantiknya kemudian menghammpiri Yusuf penuh nafsu. Membaca gelagat kurang baik, Yusuf berusaha menjaga jarak. “Yusuf kemarilah, mendekatlah kepadaku” pinta Zulaikha.

“Sungguh aku takut kepada Allah untuk memenuhi apa yang engkau kehendaki” tolak Yusuf lembut. Zulaikha yang tidak peduli, terus berusaha menghampiri “Ayolah Yusuf, mendekatlah engkau.”

Melihat Zulaikha semakin bernafsu, berlarilah Yusuf menghindar. Zulaikha mengejar dan berhasil menarik baju Yusuf bagian belakang hingga sobek. Pada saat itu datanglah Raja. Betapa terkejutnya raja melihat adegan Yusuf dan Zulaikha.

Demi menutupi rasa malu, Zulaikha membela diri. “Yusuf nyaris merusak kehormatanku, dia berusaha mendekati diriku, maka penjarakanlah dia dan siksa sepedih-pedihnya.” Mendengar fitnah Zulaikha dengan sabar Yusuf membantah. “Sungguh itu tidak benar. Apa yang dia ceritakan adalah sebaliknya.” Dalam waktu bersamaan, hadirlah sepupu Zulaikha yang terkenal arif dan bijaksana. Kepadanya dimintakan pendapat tentang siapa yang salah. Setelah mendengar dari cerita keduanya, akhirnya dia mendapat kesimpulan.

“Apabila baju Yusuf koyak bagian depan berarti Yusuflah yang memaksa dan bersalah. Sebaliknya jika baju Yusuf sobek di bagian belakang maka Zulaikhalah yang memaksa dan bersalah.”

Kepada Yusuf Raja meminta agar merahasiakan peristiwa itu. Sekalipun begitu, kejadian itu tersiar ke segenap pelosok Mesir. Tercemarlah nama baik Zulaikha. Jadilah dia bahan pergunjingan dan dia menjadi marah besar. Dia berani bersumpah setiap wanita manapun yang melihat Yusuf pasti tergoda.

Guna membuktikan keyakinannya, Zulaikha mengundang sejumlah wanita dari kalangan bangsawan. Kepada setiap wanita yang hadir, diberikan sebuah apel dan pisau untuk mengupas. Saat mereka sibuk mengupas apel masing-masing, Zulaikha memanggil Yusuf untuk melintas diantara mereka. Begitu Yusuf keluar semua yang hadir terpesona. “Benarkah Yusuf sesempurna itu?” tanya seorang wanita.

Setelah Yusuf masuk kembali, mereka serempak menjerit kesakitan. Mereka baru menyadari jika jemari mereka mengucurkan darah. Ternyata selama melihat Yusuf, bukan apel yang mereka kupas melainkan jari mereka sendiri.

Zulaikha berkata dengan senyum penuh kemenangan “Kalian saja yang baru melihat Yusuf sekejap sudah tergoda sehingga tidak merasakan jari teriris. Apalagi aku yang serumah dan bertemu Yusuf setiap hari.” Beberapa waktu setelah menghadiri undangan Zulaikha, diantara wanita yang datang tersebut ada yang berusaha mendekati Yusuf. Keinginan Zulaikha sendiri untuk bercumbu dengan Yusuf kian meluap, namun segala usahanya sia-sia. Yusuf senantiasa mengelak hingga Zulaikha merasakan ketersiksaan yang mendalam menahan nafsunya.

Sebagai pelampiasan kekecewaan, Zulaikha memohon kepada Raja agar memenjarakan Yusuf. Raja tidak keberatan mengabulkan. Yusuf pun menuruti kehendak mereka tanpa membantah. Ia sama sekali tidak menyesali keadaannya. Ia ikhlas menjalani hari-hari kelabu di dalam penjara. “Ya Allah, penjara ini memang lebih baik bagiku daripada di istana tetapi berhadapan dengan perempuan bernafsu iblis. Aku sadar tidak akan selamanya dapat selalu menolah ajakannya. Selaku manusia, sewaktu-waktu imanku pasti goyah.”

Beberapa tahun kemudian disuatu malam Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus-kurus. Raja juga melihat tujuh batang gandum hijau dan tujuh batang gandum kering. Para ahli ramal diminta untuk menjelaskan arti mimpi tersebut. Tetapi semua ahli ramal memberi jawaban bahwa mimpi raja tidak mempunyai arti apa-apa. Bahkan ada yang mengatakan mimpi itu hanya akibat dari pikiran raja yang tidak tenang. Menerima jawaban tersebut raja merasa tidak puas. Beliau masih tetap saja berusaha mencari ahli ramal yang mampu menafsirkan mimpinya.

Akhirnya sampailah informasi kepada beliau bahwa Yusuf yang di penjara olehnya sering kali benar dalam mentakwilkan mimpi seseorang. Maka diutuslah seseorang untuk menemui Yusuf guna meminta penjelasan tentang mimpi itu. Atas petunjuk Allah SWT Yusuf menjelaskan “Mesir akan mengalami tujuh tahun masa subur, sesudah itu akan mengalami tujuh tahun masa paceklik karena kekeringan, kemudian datang masa satu tahun subur.”

Yusuf pun memberi jalan keluar cara menghadapi musim paceklik kelak. “Maka selama tujuh tahun masa subur itu simpanlah hasil panen dan janganlah boros agar tidak menderita kelaparan bila musim paceklik tiba.

Penjelasan Yusuf diterima oleh raja. Sebagai tanda terima kasih, Yusuf dibebaskan dari penjara. Yusuf kemudian diangkat menjadi menteri Ekonomi. Jabatan itulah yang akhirnya mempertemukan Yusuf dengan keluarganya kembali.

This entry was posted on Sunday, January 8th, 2012 at 1:38 am and is filed under Kisah Teladan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply