November 28th, 2013

Kisah Nabi Yunus yang Sabar Menjalani Hukuman

Kehidupan penduduk kota Ninuwa sangat makmur. Hanya saja mereka tersesat karena pada setiap rumah penduduk terdapat berhala-berhala yang dijadikan sesembahan. Untuk itulah Allah SWT mengutus Nabi Yunus untuk menyadarkan mereka.

Dalam dakwahnya Nabi Yunus AS selalu memberikan pengertian bahwa tidak ada gunanya menyembah berhala karena yang berhak disembah hanyalah Allah. Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Namun ajakan nabi Yunus terdengar sangat aneh di telinga mereka sebab menyembah berhala sudah merupakan tradisi turun temurun dari nenk moyang mereka. Apalagi nabi Yunus adalah warga biasa bukan termasuk golongan bangsawan atau hartawan. Maka itu masyarakan sangat enggan mengikuti ajakan nabi Yunus.

Menyadari dakwahnya tidak membawa hasil, nabi Yunus hanya mengatakan, “Aku khawatir Allah akan menimpakan siksa kepada kalian semua disebabkan keingkaran kalian, dan jika semuanya siksa itu telah tiba maka tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan diri, kecuali orang-orang yang telah Allah kehendaki yaitu orang-orang yang beriman dan tunduk kepada syari’at Allah”

“Kami tidak akan tunduk kepadamu” kata kaumnya, “dan kami tidak takut terhadap siksa Tuhan-Mu. Jika yang engkau katakan itu benar maka datangkanlah siksa itu.” Mendengar bantahan kaumnya, nabi Yunus marah dan meninggalkan kaumnya dengan hati kecewa.

Tidak lama setelah kepergian nabi Yunus, siksa Allah benar-benar menimpa mereka. Azab Allah berupa hawa panas yang semakin lama semakin panas. Akibatnya kulit mereka menjadi rusak. Bahkan karena sangat menyiksanya, para ibu sudah tidak perduli lagi dengan bayinya sebab mereka sibuk mengurusi dirinya sendiri-sendiri.

Pada saat itu hati mereka membenarkan tutur kata nabi Yunus. Mereka pun teringat pada azab yang ditimpakan Allah SWT kepada bangsa A’ad yang mengingkari nabi Nuh AS dan bencana angin topan yang menyapu kaum Tsamud akibat mengingkari nabi Hud. Untuk itu mereka sibuk mencari nabi Yunus agar dimintakan ampunan kepada Allah SWT namun beliau tidak ditemukan. Merekapun melakukan taubat seperti yang diajarkan oleh nabi Yunus. Karena taubat mereka benar-benar ikhlas dari hati nurani, Allah segera menghentikan siksanya.

Sejak saat itu mereka mengikuti ajaran kebenaran yang disampaikan oleh nabi Yunus. Kehidupan mereka kembali menjadi sejahtera dan bahagia. Hanya satu harapan mereka yang belum terpenuhi yaitu kehadiran nabi Yunus ditengah-tengah mereka.

Setelah sekian lama melakukan perjalanan sampailah nabi Yunus di pantai. Disana ia melihat sekelompok orang yang siap berlayar menyebrangi lautan dengan sebuah perahu. Nabi Yunus meminta agar diperkenankan ikut berlayar bersama mereka. Dengan senang hati mereka menerimanya. Sebagai tamu nabi Yunus diperlakukan dengan penuh hormat karena tutur kata dan budi pekertinya yang terlihat sangat terpuji.

Sesampai ditengah lautan, perahu yang ditumpangi mereka terus diombang-ambing gelombang laut. Menghadapi hantaman badai dahsyat yang tiada hentinya, mereka diserang ketakutan. Tanpa berfikir panjang, mereka sepakat untuk membuang seluruh barang bawaan mereka ke laut agar beban perahu menjadi lebih ringan. Sekalipun demikian badai besar yang menghantam mereka tidak kunjung reda, sehingga sepakatlah mereka untuk mengurangi penumpangnya.

Namun siapakah orang yang harus dilemparkan ke laut? Akhirnya mereka mengadakan undian dengan ketentuan yang namanya keluar harus menceburkan diri ke laut secara sukarela. Setelah diundi, keluarlah nama nabi Yunus. Namun karena beliau tamu maka penumpang yang lain tidak setuju. Diadakanlah undian yang kedua kalinya. Tetapi anehnya nama nabi Yunus yang keluar lagi.

Dua kali namanya keluar dalam undian tersebut, nabi Yunus merasa ini adalah kehendak Allah. Barangkali ini adalah teguran dari Allah karena nabi Yunus tidak sabar dalam berdakwah. Untuk itu dia bertekat untuk menjalankan hasil undian itu dan melarang orang-orang anggota rombongan yang lain mengundinya kembali.

Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit, Nabi Yunus segera menceburkan diri ke laut. Beliau menyerahkan nasib sepenuhnya kepada Allah. Beliau percaya apa yang dikehendaki Allah terhadap dirinya maka itulah yang terbaik.

Nabi Yunus diombang-ambingkan gelombang besar. Sesaat kemudian beliau ditelan ikan besar yang diperintahkan Allah untuk menyelamatkannya. Jadilah Nabi Yunus berdiam dalam kegelapan perut ikan. Di bawa berenang mengarungi lautan selama tiga hari tiga malam nabi Yunus tidak berkeluh kesah. Ia benar-benar rela dan sabar dengan senantiasa berdoa memohon ampun kepada Allah.

Allah yang Maha mendengar do’a hambanya mengabulkan do’a nabi Yunus. Untuk itu Allah memerintahkan ikan tersebut mengeluarkan nabi Yunus di sebuah pantai. Keadaan nabi Yunus ketika keluar dari mulut ikan benar-benar lemah sehingga hanya terkulai lemas beberapa waktu.

Berkat karunia Allah di tempat nabi Yunus terdampar tersebut tumbuh pohon Yaqtien yang berbuah dan berdaun rimbun. Buah dari pohon Yaqtien itulah yang beliau makan dan kerimbunan pohonnya dijadikan tempat berteduh dari terik matahari sampai kesehatannya pulih kembali.

Ketika nabi Yunus mampu duduk, Allah SWT memerintahkan beliau kembali ke tengah-tengah kaumnya karena mereka membutuhkan kepemimpinan beliau. Saat itu umat nabi Yunus sudah beriman semuanya. Akhirnya nabi Yunus pulang ke kampung halamannya. Dia mengajak keluarga dan kaumnya untuk meningkatkan dan menyempurnakan keimanannya kepada Allah.

Berkaitan dengan nabi Yunus, Allah SWT berfirman, “Kalau bukan dia (Yunus), yang sebelumnya banyak menyebut-nyebut nama Allah (beribadah kepada-Nya), niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kiamat.” (Ash-Ahaaffaat : 143 – 144).

Jelaslah bahwa yang membuat nabi Yunus dapat bertahan di perut ikan selama 3 hari 3 malam dan keluar dari perut ikan tersebut adalah karena ibadah dan dzikir yang senantiasa beliau lakukan sebelum peristiwa tersebut.

This entry was posted on Thursday, November 28th, 2013 at 6:41 am and is filed under Kisah Teladan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply