April 24th, 2013

Kisah Nabi Hud AS yang Sabar Menerima Caci Maki

“Keturunan orang-orang beriman, tentulah menjadi orang yang beriman juga.” Anggapan tersebut ternyata tidak 100% benar. Hal itu terjadi sejak masa suku bangsa Aad, generasi dari orang-orang pengikut Nabi Nuh. Jika di lihat dari garis keturunannya, semestinya mereka menyembah Allah. Namun kenyataannya mereka berbuat sebaliknya.

Taraf hidup suku bangsa Aad sangatlah makmur. Mungkin karena itulah mereka tidak merasa butuh pertolongan Tuhan dan tidak beriman kepada Allah. Disini jelaslah mereka lupa, bahwa segala sesuatu merupakan pemberian Allah yang harus disyukuri. Selain itu, mengapa mereka menyembah berhala? Sudah lupakah mereka dengan adzab yang Allah timpakan kepada kaum yang tidak beriman kepada Nabi Nuh AS?

Sekalipun suku bangsa Aad telah mengingkari nikmat Allah, Allah masih menyayangi mereka dengan mengutus Nabi Hud AS. Seperti nabi-nabi lain, Nabi Hud juga memiliki kemurahan hati dan berbudi pekerti luhur. Selama menjalankan tugasnya mengajak kaumnya ke jalan Allah, beliau sangat sabar, pemaaf dan santun.

“Wahai kaumku, kembalilah kalian kepada ajaran yang pernah disampaikan oleh nabi Nuh. Menyembah Allah dan mematuhi segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangannya.” Ajak Nabi Hud kepada kaumnya. “Buat apa?” bantah mereka “Kami tidak membutuhkan Tuhan. Cukuplah bagi kami istana–istana yang kami tempati dan kemewahan yang kami miliki ini”

“Ingatlah kaumku, sesungguhnya semua itu dari AllahSWT.” Tidak bosan-bosannya Nabu Hud memberikan peringatan. “Dialah yang menghidupkan dan mematikan serta yang memberikan segala kenikmatan kepada kalian. Itulah sebabnya aku mengajak kalian beriman kepada-Nya”

Mereka mencibir “Apa hakmu atas kami?” “Allah yang memerintahkan aku memberikan petunjuk kebenaran kepada kalian. Percayalah, agar kalian selamat dari kesesatan.” Kata nabi Hud. “Mana mungkin kami mempercayaimu, Hud? Sedang kami tidak melihat sedikitpun kelebihanmu atas diri kami.” ejek salah seorang kaum Nabi Hud. “Bukankah engkau tidur, makan dan minum sebagaimana kami? Engkaupun menderita sakit sebagaimana sakit yang kami alami.”

Nabi Hud hanya dapat bersabar menghadapi kemungkaran mereka yang sudah keterlaluan. Namun beliau tidak pernah putus harapan mengingatkan mereka sekalipun ditanggapi dengan cara yang menyakitkan.

Suku bangsa Aad tetap saja bertingkah jahiliyah. Mereka tidak saja menyembah berhala, melainkan juga melakukan tindakan kejahatan dan kekejian. Perjudian, mabuk-mabukan, perzinahan dan tindakan keji lainnya menjadi pemandangan yang biasa. “Sungguh, kalian pasti akan ditimpakan adzab dari Allah” seru Nabi Hud mengingatkan.

Mereka tidak peduli bahkan ketika peringatan Nabi Nuh mulai menjadi kenyataan. Mereka ditimpa kekeringan karena hujan yang mereka nantikan tidak pernah terjadi lagi. Tidak setetes pun air yang yang turun dari langit. Pada tahun pertama musim kemarau, mereka belum merasakan kesulitan karena persediaan air dan bahan makanan mereka masih melimpah. Baru pada tahun ketiga hujan tidak pernah turun juga, mereka menyadari itulah adzab Allah yang pernah diperingatkan oleh Nabi Hud.

“Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Allah dan bertaubatlah. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras dari langit untuk kalian” Nabi Hud menganjurkan. Dalam hati mereka percaya bahwa itulah adzab Allah, namun hati mereka tidak tergerak untuk bertaubat. Anjuran Nabi Hud tidak mereka perdulikan.

Suatu hari terdapat awan hitam yang terbentang sepanjang langit. “Itulah pertanda akan turun hujan” teriak seorang suku bangsa Aad. “Ya, awan itulah yang akan menyelamatkan kita dari kekeringan” jawab yang lain dengan yakin.

“Bukan, itu bukan awan rahmat.” Kata Nabi Hud “Itu adalah adzab Allah yang akan menimpa kalian” Apa yang dikatakan Nabi Hud ternyata menjadi kenyataan. Dari awan hitam itu berhembuslah angin yang sangat dahsyat. Angin hitam itu mengamuk, mengangkat dan meluluh-lantakkan bangsa Aad yang tidak beriman kepada Allah. Harta benda merekapun habis tidak bersisa. Orang-orang yang selamat dari bencana ini adalah pengikut setia Nabi Hud yang selama ini beriman kepada Allah dan bersabar menghadapi godaan nafsunya.

This entry was posted on Wednesday, April 24th, 2013 at 6:43 am and is filed under Kisah Teladan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply