January 9th, 2012

Kisah Nabi Daud yang Sabar Menghadapi Kedurhakaan Anak

Memasuki usia senja, Nabi Daud AS ingin meletakkan mahkotanya sebagai raja Bani Israil. Ia ingin mengisi hari-harinya dengan hanya beribadah kepada Allah tanpa dibebani oleh masalah dunia. Untuk itu ia menyerahkan singgasananya kepada Sulaiman. Alasan Nabi Daud mewariskan tahtanya kepada anak laki-laki yang paling muda itu adalah karena Sulaiman lebih cerdas, memiliki tingkah laku yang terpuji, lebih bijak dan lebih memiliki bakat kepemimpinan dibandingkan dengan putra Nabi Daud yang lainnya.

Sulaiman memang dikenal sebagai pemuda yang memiliki pemikiran yang cemerlang. Karena kecerdasannya itulah dalam menangani kasus tertentu Nabi Daud tidak segan-segan meminta pendapat sulaiman. Bahkan tidak jarang warga Bani Israil langsung mendatangi Sulaiman untuk meminta tolong kepadanya guna menyelesaikan suatu masalah. Tidak mengherankan jika pengangkatannya menjadi raja Bani Israil disambut baik oleh banyak pihak. Tetapi anak-anak Nabi Daud sendiri yang lebih tua dari Nabi Sulaiman tidak senang dengan pengangkatan tersebut terutama Absyalum.

“Sebagai anak tertua saya lebih berhak mewarisi tahta,” keluh Absyalum “Saya juga lebih berpengalaman dan lebih mengetahui seluk-beluk pemerintahan, tetapi kenapa Bapak memilih Sualiman?”

Dari waktu ke waktu kekecewaan Absyalum semakin membesar. Ambisinya untuk menjadi seorang raja semakin menguat. Untuk mewujudkan impiannya menjadi raja Bani Israil, Absyalum mencari dukungan dari banyak kalangan. Kepada semua orang ia menunjukkan bahwa dialah yang lebih pantas dan lebih berhak menjadi seorang raja.

“Pengangkatan Sulaiman sebagai pemimpin kita adalah kesalahan besar!” kata Absyalum pada setiap orang. Usaha Absyalum untuk mencari dukungan rakyatnya akhirnya membuahkan hasil. Dari waktu ke waktu kewibawaan Nabi Sulaiman tercemar. Kaum Bani Israil lebih memilih patuh kepada Absyalum. Dan ketika Absyalum sudah yakin benar bahwa sebagian besar warga Bani Israil lebiih memihak kepadanya, ia ingin secepatnya merebut kekuasaannya Sulaiman.

Setelah persiapan untuk melakukan kudeta dianggap sudah matang dan para pendukung utamanya siap menunggu komando, Absyalum meminta izin kepada Ayahnya Daud AS untuk pergi ke desa Jidwan. Sebelum berangkat ia berpesan kepada para pengikutnya, jika nanti terdengar bunyi terompet maka mereka harus segera menyusul dan bersama-sama mengangkatnya sebagai raja. Selanjutnya, Absyalum bersama-sama pengikutnya ingin mengambil alih kepemimpinan yang dipegang Nabi Sulaiman dengan cara kekerasan.

Rencana kudeta Absyalum terdengar ke penjuru kota. Suasana politik kota pun menjadi kacau. Pada saat itulah Nabi Daud AS mulai mendengar adanya golongan yang mencaci maki dirinya. Termasuk diantara mereka adalah orang-orang yang semula menghormati beliau. “Kalau anakku sendiri sudah berani merencanakan penyerangan kepadaku, apalagi orang lain” pikir Nabi Daud AS.

Sekalipun marah dan sedih melihat kedurhakaan anaknya ia masih berusaha bersabar. Untuk menghindari pertumpahan darah ia mengajak keluarga dan pengikutnya melarikan diri ke luar kota sampai menyebrangi sungai Ardun dan mendaki gunung Zaitun yang terkenal tinggi.

Tidak lama setelah Nabi Daud AS beserta keluarga dan pengikutnya melarikan diri, Absyalum dan pengikutnya menduduki pusat pemerintahan dan ia mengumumkan bahwa mulai sejak itu dialah raja Bani Israil yang sah. Dalam pelarian, nabi Daud AS tidak hanya diam berpangku tangan. Beliau berdo’a kepada Allah dan menyusun kekuatannya kembali.

Setelah bermusyawarah, para penasihat dan para pemimpin perang Nabi Daud AS sepakat merebut kembali kota Oersalim. Sebelum pasukannya berangkat menyerang, Nabi Daud AS berpesan agar mereka tidak langsung mengangkat senjata setelah memasuki kota. Ia mengutamakan jalan damai dengan cara memberikan penjelasan tentang apa yang sedang terjadi dan bagaimana mereka harus bersikap. Nabi Daud juga meminta agar mereka sebisa mungkin tidak membunuh Absyalum.

Namun sesampainya di kota, jalan damai yang ditempuh pasukan Nabi Daud tidak dipedulikan oleh masyarakat, bahkan mereka mendapatkan perlawanan dari masyarakat. Melihat kenyataan ini, terpaksa pasukan Nabi Daud AS mengangkat senjata.

Pertempuran dahsyat tidak dapat lagi dihindarkan. Seluruh tentara Absyalum porak-poranda. Absyalum sendiri tewas di ujung senjata. Sejak saat itu kota Oersalim berhasil di kuasai oleh pasukan Nabi Daud kembali. Demikian juga singgasana kerajaan berhasil diselamatkan.

Setelah keadaan Oersalim cukup aman, Nabi Daud AS, keluarganya dan pengikutnya kembali ke kota dari pelarian. Mereka sepakat mengukuhkan kembali Sulaiman sebagai Raja Bani Israil. Sejak itulah Sulaiman memerintah dengan tenang, bahkan berhasil membangun Bani Israil menjadi bangsa yang makmur dan maju sejahtera. Jauh lebih makmur di bawah pemerintahan Nabi Daud AS.

This entry was posted on Monday, January 9th, 2012 at 1:13 am and is filed under Kisah Teladan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply