December 15th, 2011

Kisah Nabi Ayub yang Sangat Sabar Menghadapi Cobaan

Bila ingat harta dan keturunannya segera menyerulah Nabi Ayub AS kepada Allah. Dia benar-benar takut tergelincir oleh kekayaannya. Tanahnya amat luas, binatang ternaknya sangat banyak dan memiliki keluarga besar dengan banyak anak. Meskipun demikian, Nabi Ayub tidak suka berfoya-foya dan menyombongkan diri. Beliau senantiasa beribadah kepada Allah dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.

Harta dan keturunan bagi Nabi Ayub merupakan amanah Allah yang harus dijaga dengan baik. Keduanya adalah ujian yang berat. Sebagian hartanya dia santunkan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan bantuan dan dipakai juga sebagai modal dakwah untuk mengajak kaumnya menyembah Allah. Karena sangat takwa dan arif, para malaikat sepakat memberinya gelar manusia paling baik pada masa itu.

Mengetahui penobatan Ayub sebagai manusia paling baik, Iblis tidak rela. Dia ingin segera merusak keimanan Nabi Ayub supaya tersesat. Maka menghadaplah Iblis kepada Allah. “Ya Tuhan, Ayub beribadah kepada-Mu bukan untuk mensyukuri nikmat-Mu melainkan dia berharap agar engkau melipatgandakan kekayaannya. Sesungguhnya dia menyembah kepada harta, bukan kepada-Mu. Bila engkau tidak percaya izinkanlah aku dan teman-temanku untuk membuktikannya. Aku akan melenyapkan semua kekayaan dan keturunan Nabi Ayub dan dia akan segera berpaling dari Engkau” kata Iblis yakin.

Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui. Allah menerangkan kepada Iblis bahwa ibadah Nabi Ayub benar-benar suci dan ikhlas dan bukan karena harta. Namun karena Allah ingin menjadikan Nabi Ayub lebih suci dan ketaatannya dapat dijadikan contoh bagi umat manusia, maka Iblis diizinkan untuk menggoda Nabi Ayub AS.

Setelah mendapatkan izin dari Allah, Iblis segera menggerogoti kekayaan nabi Ayub dengan menimpakan berbagai musibah. Secara berangsur dari hari ke hari kekayaan nabi Ayub semakin menipis dan lama kelamaan habis. Hingga tibalah pada puncak kemelaratan dimana tidak ada sepetak tanahpun yang tersisa dan tidak ada seekor ternakpun yang dimilikinya. Pada saat demikian datanglah Iblis dengan menjelma menjadi manusia alim.

“Aku turut prihatin atas keadaan engkau sekarang. Sia-sialah engkau menyembah Allah selama ini karena ternyata Dia tidak mau menyelamatkan kekayaanmu” kata Iblis. “Wajarlah jika Allah mengambil kekayaanku karena memang semua ini adalah milik Allah” jawab nabi Ayub tenang. Tidak nampak sedikitpun kekecewaan di wajahnya. Nabi Ayub tetap memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan sebatas kemampuannya. Dia juga tetap mengajak umat manusia agar selalu menyembah Allah. Ketaatan nabi Ayub kepada Allah malah semakin meningkat.

Melihat keimanan nabi Ayub tidak goyah bahkan semakin sabar, Iblis semakin tertantang. Dia benar-benar ingin melihat keimanan nabi Ayub runtuh. Menghadaplah kembali Iblis kepada Allah untuk meminta izin menggoda nabi Ayub lebih dari itu. Setelah mendapat izin, Iblis membinasakan semua keturunan nabi Ayub beserta keluarga dan istana yang sedang mereka tempati. Dengan cara demikian Iblis berharap Ayub akan berpaling dari Allah. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, berguguranlah keturunan nabi Ayub. Kemudian Iblis menghampiri nabi Ayub dengan menyamar menjadi orang arif.

“Ayub, Allah telah membalas amal ibadahmu dengan malapetaka yang sangat luar biasa. Kenapa engkau masih mau beribadah kepadaNya? Tidakkah semuanya itu sia-sia?” kata Iblis. Dengan penuh kesabaran nabi Ayub menjawab “Sudah sepantasnyalah Allah mematikan orang karena Dia yang menghidupkan.”

Biarpun harta kekayaan habis dan keturunan musnah iman nabi Ayub tetap kuat mengakar dalam sanubarinya. Dia malah melipat-gandakan amal ibadahnya sehari-hari. Dengan cara itulah nabi Ayub dapat mengurangi rasa sedihnya dan menghindari rayuan Iblis.

Cobaan nabi Ayub ternyata tidak hanya sampai disitu. Allah masih merestui Iblis supaya merusak iman nabi Ayub. Maka jalan terkahir yang ditempuh Iblis adalah merusak badan nabi Ayub AS dengan menebarkan berbagai penyakit di tubuhnya. Lambat laun, tubuh nabi Ayub yang segar bugar menjadi layu dan kurus kering. Pada akhirnya nabi Ayub harus terkapar di pembaringan. Keadaan ini disertai dengan pengusiran oleh tetangga nabi Ayub AS.

Kepada Rahmah, istri nabi Ayub para tetangganya berkata. “Bawalah Ayub pergi dari kampung ini. Kami ketakutan kalau penyakitnya itu menular kepada keluarga kami. Jika engkau tidak bersedia, kami akan memindahkan Ayub dengan paksa.”

Dengan penuh kesedihan, Rahmah membawa nabi Ayub pergi. Mereka kemudian menempati sebuah gubug yang jauh dari pemukiman warga. Mereka hidup terpencil berdua tanpa sanak saudara. Kesedihan yang mendalam semakin bertambah ketika Rahmah diberhentikan kerja oleh majikannya dengan alasan membawa virus penyakit suaminya.

Masih dengan segenap kesabarannya, Ayub memohon kepada Allah “Ya Allah, aku rela Engkau cabut semua nikmat yang pernah engkau berikan kepadaku, namun sisakanlah pikiran dan lidah untukku. Karena hanya dengan pikiran itulah aku dapat mengingat-Mu dan dengan lidah ini aku dapat terus memuji-Mu.”

Allah Maha Tahu, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Luluslah nabi Ayub dari serangkaian batu ujian. Semasa kaya, nabi Ayub tidak mabuk dunia dan tidak sombong. Pada saat sengsara beliau juga masih taat beribadah kepada Allah. Akhirnya nabi Ayub berhasil mencapai tingkat keimanan tertinggi. Maka Allah membalasnya dengan menurunkan wahyu. “Hai Ayub, gerakkanlah kakimu, nanti akan muncul mata air. Lalu minumlah dan mandilah dengan air itu, niscaya engkau akan sembuh.”

Sesuai petunjuk Allah, perlahan nabi Ayub menggerakkan kaki dan keluarlah air. Kemudian nabi Ayub minum dan mandi dengan air itu. Satu demi satu hilanglah luka dan penyakitnya. Dari waktu ke waktu kesehatan dan kebugarannya mulai pulih kembali. Beberapa tahun kemudian nabi Ayub lebih gagah dan lebih kaya dari sebelum sakit. Demikian pula keturunannya, lebih banyak dan semuanya berbakti kepada Allah.

This entry was posted on Thursday, December 15th, 2011 at 7:51 am and is filed under Kisah Teladan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply