October 29th, 2011

Kisah Nabi Adam AS Sabar Memohon Ampunan Allah

Nabi Adam tertegun memandang sekelilingnya. Ia hampir tidak percaya melihat keadaan alam yang dihuninya, berupa belantara hutan yang liar. Bumi tempat berpijaknya kini memang berbeda jauh dengan keadaan surga yang baru ditinggalkannya bersama Hawa.

Di surga sejauh mata memandang pemandangannya sangatlah indah dengan suasana yang sejuk dan menentramkan hati. Sedangkan di bumi sebaliknya, suasananya mengerikan dan tidak bersahabat. Terik matahari pada siang hari begitu menyengat dan pada malam hari terasa begitu dingin. Namun bukan karena kedaan bumi yang menyiksa yang membuat Nabi Adam tidak bisa tenang. Bukan pula karena hutan liar dan binatang buas yang selalu membuatnya ketakutan.

“Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah aku” rintik Adam sedih dalam hati. Ia benar-benar menyesali perbuatannya karena termakan bujuk rayu iblis untuk melanggar larangan Allah yaitu memakan buah khuldi. Atas kesalahan yang telah ia lakukan itulah yang membuat Adam dicekam rasa ketakutan.

Semula Adam dan Hawa yang telah dinikahkan oleh Allah SWT diizinkan tinggal di surga. Mereka berdua diberi kebebasan untuk menikmati semua kesenangan yang ada di surga kecuali memakan buah khuldi. Larangan tersebut dimaksudkan untuk menguji sejauh mana kemampuan mereka untuk menahan nafsu dan keta’atan mereka kepada Allah. Namun atas bujuk rayu Iblis yang telah bersumpah akan menyesatkan umat manusia, Adam dan Hawa melanggarnya. Itulah dosa pertama yang dilakukan oleh umat manusia.

Saat itu Adam benar-benar lupa, bahwa iblis adalah musuhnya. Padahal Allah telah berfirman kepadanya “Hai Adam, Iblis itu musuhmu dan musuh istrimu. Ia akan selalu berusaha menyesatkan kalian”

Atas pelanggaran Adam dan Hawa memakan buah khuldi itulah maka Allah SWT menjatuhkan hukuman dengan menurunkan mereka ke bumi. Adam dan Hawa sama sekali tidak keberatan ditempatkan di bumi walaupun harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup. Namun semua itu mereka jalani dengan penuh kesabaran. Satu-satunya masalah yang meresahkan mereka adalah pertanyaan yang sering mengganggu pikiran mereka “Apakah Allah SWT bersedia mengampuni kesalahanku?

Pertanyaan tersebut yang membuat perasaan Adam dan Hawa sering diliputi kesedihan dan membuat hari-hari yang mereka jalani terasa sangat berat. Hari demi hari Adam dan Hawa jalani dengan penuh penyesalan sambil berjanji dalam hati untuk tidak berbuat dosa lagi.

Kesedihan dan ketakutan Adam AS baru sirna ketika Nabi Adam menerima wahyu Allah pertama yang menyatakan bahwa Allah berkenan menerima taubat sekaligus mengampuni kesalahan Adam dan Hawa. Maka tidak sia-sialah kesabaran mereka selama ini dalam memohon ampunan Allah. Semenjak itu Adam dan Hawa merasa tenang dan bergairah dalam menjalani kehidupan mereka di bumi. Adam juga dinaikkan derajatnya menjadi seorang nabi, maka jadilah ia manusia pertama yang menerima pengajaran dari Allah SWT.

Setelah itu Allah melengkapi kebahagiaan Adam dan Hawa dengan mengaruniakan sejumlah keturunan kepada mereka berdua. Kelak di kemudian hari sebagian keturunan mereka beriman kepada Allah SWT dan sebagian lagi mengingkari-Nya.

This entry was posted on Saturday, October 29th, 2011 at 1:43 pm and is filed under Kisah Teladan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply