Kisah Kapal Nabi Nuh AS

KAPAL NABI NUH AS

Kapal Nabi Nuh AS

Kapal Nabi Nuh AS

NABI NUH AS – Semasa Nabi Adam AS manusia telah menyembah Allah SWT dan berakhlak Islami. Tetapi sepeninggal beliau mereka berbuat sesuka hati. Mereka mulai berani melanggar norma-norma yang ada. Juga meninggalkan kepercayaan dan ajaran yang telah disampaikan Nabi Adam AS. Dengan begitu lenyaplah pengendali nafsu yang selama ini mereka miliki. Akibatnya akhlak mereka pun tidak terpuji lagi.

Untuk memperbaiki akhlak manusia pada masa itu, Allah SWT mengutus Nabi Idris AS. Beliau seorang yang terkenal jujur dan shaleh. Sepeninggal Nabi Idris AS terdapat lima orang pemimpin kaum yang terkenal arif dan bijaksana. Mereka adalah Wad, Suwa, Jahuth, Ja’ud dan Nasr. Namun sedemikian mengesankan kepemimpinan mereka, sehingga setelah kelimanya meninggal, kaumnya membuat 5 patung menyerupai mereka. Guna mengenang jasa dan segala kebaikan mereka, dijadikanlah patung-patung itu sesembahan. Pada masa itulah manusia menyembah berhala untuk pertama kalinya.

NABI NUH AS

Untuk meluruskan umat manusia yang tersesat itu, Allah SWT mengutus Nabi Nuh AS. Menurut Al-Quran, usia nabi Nuh mencapai 950 tahun. Beliau diangkat Allah menjadi Rasul pada umur 480 tahun. Berarti 470 tahun lamanya Nabi Nuh berupaya menyadarkan kaumnya agar berpaling dari berhala dan kembali menyembah Allah SWT. Kaum Nabi Nuh terkenal sangat pandai berdebat dan suka membantah terhadap Nabi Nuh AS. Oleh karena itu tidaklah heran setiap ajakan Nabi Nuh kepada kaumnya tidak berhasil. Selama 470 berdakwah pengikut Nabi Nuh sangat sedikit yaitu sekitar 80 orang.

Tidak bosan Nabi Nuh mengatakan kepada kaumnya “Bila kalian tidak mempercayaiku sebagai Rasul dan tidak bersedia mengikuti jejakku, aku khawatir akan datangnya hari penyesalan. Pada hari itu adzab dan siksa dari Allah tidak mungkin kalian hindarkan”

“Buat apa kami mengikuti ajakanmu?” bantah kaum Nabi Nuh. “Bukankah engkau juga manusia biasa?” “Hanya orang-orang bodohlah yang mau menurut pada nasihat-nasihatmu, sedangkan kami orang-orang mulia dan pandai yang tidak memerlukan petunjuk-petunjukmu”

Masih dengan kesabaran tinggi Nabi Nuh menjawab “Kalian memang kaumku yang mulia dan pintar. Itulah sebabnya aku sangat menyayangkan kepintaran kalian jika kalian tidak menyembah Allah. Sesungguhnya ajakan ini aku sampaikan semata-mata karena aku mencintai kalian semua.”

“Wahai Nuh, engkau tidak perlu mencintai kami, cukuplah engkau sayangi para pengikutmu dan biarkanlah kami.” bantah kaumnya. Yang lain juga ikut membantah, “Bagaimanapun kami tidak bisa menerima ajaranmu yang menyamaratakan kedudukan raja dengan rakyat jelata, yang menganggap kehormatan orang kaya sama dengan orang miskin dan mensejajarkan si bodoh dengan si pintar.”

“Ketahuilah wahai kaumku,” kata Nabi Nuh AS “ Agama tidak membeda-bedakan derajat manusia dan jika kalian tetap membantah, benar-benar akan datang siksa Allah yang amat pedih.”

“Wahai Nuh, kami tidak percaya pada segala omong kosongmu,” bantah kaumnya “Termasuk tentang siksaan yang selalu kau bicarakan. Bila siksaan itu memang ada, coba datangkanlah.” Berdoalah Nabi Nuh kepada Allah memohon cara yang terbaik untuk menghadapi kaumnya. Maka turunlah wahyu yang memerintahkan Nabi Nuh dan pengikutnya untuk membuat kapal dan segera mereka dilaksanakan. Perintah itu membuat kaum pembangkang kian menertawakannya.

PERINTAH MEMBUAT KAPAL NABI NUH

“Wahai Nuh, biasanya engkau mengajak kami menyeru kepada Allah karena engkau merasa menjadi Rasul-Nya. Tetapi mengapa sekarang engkau menjadi tukang kayu? Apakah ini karena engkau sudah bosan menjadi Nabi? Atau kerasulanmu telah di cabut?” olok kaumnya.

“Hai Nuh, engkau adalah segila-gilanya manusia” cemooh kaumnya yang lain. “Bukankah tidak masuk akal engkau membuat kapal di daerah pegunungan yang jauh dari laut dan tidak ada sungai ini?”

Nabi Nuh dan pengikutnya menerima dengan sabar segala ejekan mereka karena iman dan takwa mereka kepada Allah. Mereka yakin perintah membuat kapal itu bukanlah perbuatan sia-sia di kemudian hari.

Usai pembuatan kapal, Allah memerintahkan Nabi Nuh dan pengikutnya segera naik ke kapal tersebut. Allah juga memerintahkan setiap sepasang hewan dinaikkan ke atas kapal. Tidak lupa perbekalan yang dibutuhkan selama di kapal juga disiapkan. Tetapi justru anak Nabi Nuh sendiri menolak ajakan beliau, itulah yang membuat Nabi Nuh sangat sedih.

Setelah semuanya naik kapal, tiba-tiba turunlah hujan yang amat deras selama 1 bulan lebih tanpa henti. Air bagaikan tumpah dari langit dan badai ada di mana-mana. Sedemikian lebatnya hujan yang turun, dengan cepat merendam pemukiman kaum Nabi Nuh.

“Wahai anakku” teriak Nabi Nuh kepada putranya. “Ketahuilah, tidak ada tempat untuk berlindung. Allah akan menenggelamkan orang-orang yang dzalim. Maka naiklah engkau ke kapal ini. Hanya orang yang naik kapal ini yang akan selamat”

“Tidak Bapak, aku akan lari ke puncak gunung.” Kata anak Nabi Nuh. “Puncak gunungpun akan ikut terendam, percayalah.” Kata Nabi Nuh.

Namun anak nabi Nuh tidak menghiraukannya dan dia lari menuju puncak gunung. Melihat pembangkangan anaknya sendiri, Nabi Nuh sangat tersiksa dan sedih. Beliau hanya bisa bersabar. Maka turunlah wahyu, “Anakmu memang darah dagingmu, tetapi dia bukan golonganmu, maka relakanlah.”

Nabi Nuh hanya mengurut dada. Demikian pula para pengikutnya yang menyaksikan sanak famili mereka binasa tertimpa banjir berbulan-bulan lamanya. Setelah air surut, Nabi Nuh dan pengikutnya membangun pemukiman baru.

Kata Kunci Pencarian:

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge