October 8th, 2011

Cerita Abu Nawas Menguji Ibu Sejati

Cerita Abu Nawas

Cerita Abu Nawas

Cerita ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda. Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama menginginkan anak tersebut. Hakim rupanya kesulitan memutuskan dan menentukan wanita mana yang sebenarnya ibu dari bayi itu.

Karena masalah ini berlarut-larut, maka hakim dengan terpaksa menghadap baginda raja untuk meminta bantuan. Baginda pun ikut turun tangan. Baginda memakai strategi rayuan dengan harapan mungkin dengan cara-cara yang halus ada salah satu wanita itu yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Raja Harun A-Rasyid itu justru membuat kedua perempuan tersebut semakin ngotot mengakui bahwa itu adalah anaknya. Akhirnya baginda pun putus asa.

Setelah dipikirkan tidak ada cara lain selain memanggil Abunawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Namun Abu Nawas tidak mau menjatuhkan putusan hari itu juga, ia menundanya sampai keesokan harinya. Semua orang yang hadir meyakini Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal sebenarnya penundaan itu disebabkan algojo tidak ada di tempat.

Keesokan hari sidang dibuka kembali dengan harapan kasus ini terselesaikan. Abu Nawas langsung memanggil algojo yang telah siap dengan pedang di tangannya. Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.

“Apa yang akan kamu lakukan terhadap bayi itu?” tanya kedua perempuan dengan binggung. Kemudian Abu Nawas berkata “Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada ibu kandungnya?”

“Tidak, bayi itu adalah anakku” teriak kedua wanita itu. “Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama-sama menginginkan bayi ini dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi ini menjadi 2 agar kalian sama-sama mendapatkannya.” Kata Abu Nawas dengan nada tegas.

Mendengar pernyataan tersebut, wanita pertama senang bukan main, sedangkan wanita kedua menjerit-jerit histeris. “Tolong, jangan belah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu” kata wanita kedua.

Abunawas kini tersenyum lega, strateginya untuk memecahkan masalah ini telah berhasil. Kebohongan mereka telah terbongkar dan kini Abunawas mengetahui siapa ibu dari bayi itu. Karena tidak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya di sembelih apalagi di depan matanya. Abu Nawas segera menyerahkan bayi itu kepada wanita kedua yang tadi menjerit histeris.

Abu Nawas meminta kepada raja agar wanita yang pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Baginda raja merasa puas dengan keputusan yang diambil Abu Nawas. Sebagai rasa terima kasih Abu Nawas ditawari untuk menjadi penasehat hakim kerajaan, namun Abunawas menolak. Ia tetap lebih senang menjadi rakyat biasa.

This entry was posted on Saturday, October 8th, 2011 at 9:36 am and is filed under Kisah Teladan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply